APA YANG DI BUTUHKAN OLEH LULUSAN AKUNTANSI ?

APA YANG DI BUTUHKAN OLEH LULUSAN AKUNTANSI ?


Profesi akuntansi berada dalam pengawasan sebagai akibat dari kegagalan perusahaan mengubah teknologi dan globalisasi ekonomi dunia. Perubahan ini telah mengurangi biaya informasi dan meningkatkan tingkat persaingan antar organisasi. Akibatnya pengusaha mencari beragam keterampilan dan atribut lulusan akuntansi baru untuk mempertahankan keunggulan kompetitif.

Sebuah pendidikan universitas harus meletakkan dasar untuk komitmen seumur hidup oleh lulusan untuk belajar dan pengembangan profesional. Pedoman Akreditasi Perguruan membuat harapan dari tingkat keterampilan generik, atribut yang dikembangkan selama program akuntansi harus melampaui pengetahuan, keahlian disiplin dan kualitas yang mempersiapkan lulusan sebagai pembelajar seumur hidup sebagai warga dunia, sebagai agen untuk kebaikan sosial dan pengembangan pribadi dalam masa depan.

Penelitian ini meneliti persepsi lulus siswa tentang keterampilan dan atribut yang mereka anggap penting untuk karir mereka, dan penekanan di tempatkan pada pengembangan keterampilan ini selama gelar program mereka. Penelitian ini juga meneliti keterampilan dan atribut yang diharapkan oleh berbagai kelompok pengusaha dan mengeksplorasi kesenjangan antara presepsi.

Beberapa peneliti telah menunjukkan bahwa keterampilan teknis masih dianggap dalam dasar keterampilan seseorang memasuki karir akuntansi.  Pendidik universitas dari akuntan profesional masa depan harus berkomitmen untuk mengembangkan atribut yang relavan diidentifikasi untuk profesional.

Secara global, laporan profesional menyatakan keprihatinan bahwa pendidikan akuntansi menekankan kemampuan teknis lulusan untuk merugikan kompetensi lainnya dan menyarankan perlunya strategi pembelajaran alternatif, seperti berbasis kasus metode, seminar, permainan peran, dan simulasi.

Metodelogi  

Kuantitatif dan Kualitatif

Kesimpulan

Mahasiswa adalah kelompok pemangku kepentingan kunci tentang mengembangkan keterampilan dan atribut untuk melengkapi mereka untuk berkarir di profesi akuntansi. Penelitian ini mengungkapkan bahwa mahasiswa dinilai terus menerus belajar sebagai keterampilan yang paling penting untuk karir masa depan dan dalam hal pengembangan keahlian rutin teknis, keterampilan komunikasi lisan dan tertulis, analitis dan keterampilan pemecahan masalah dan keterampilan pengambilan keputusan dan berpikir kritis. Menunjukkan tahap hidup, mahasiswa difokuskan pada pengembangan berkelanjutan dan keterampilan pribadi seperti profesional, motovasi diri, kepemimpinan dan kemampuan untuk bekerja sama dalam tim.

Berkenaan dengan pengusaha, mereka mengharapkan lulusan memasuki profesi untuk memiliki tiga kemampuan analisis / pemecahan masalah keterampilan, tingkat bisnis atau pengalaman kehidupan nyata dan keterampilan akuntansi dasar. Pengusaha juga mengharapkan keterampilan komunikasi lisan, kesadaran etika dan keterampilan tentang sifat interdisipliner bisnis. Pengusaha membutuhkan lebih latar belakang pengetahuan, pengalaman hidup dan keterampilan yang berhubungan dengan pekerjaan. Seperti harapan ini telah dianjurkan untuk beberapa waktu, untuk pendidik akuntansi dalam hal kebutuhan untuk beradaptasi kurikulum akuntansi dengan kerja terintegrasi belajar ke dalam program.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada beberapa kesepakatan antara mahasiswa dan pengusaha dalam hal keterampilan yang dibutuhkan untuk sukses dalam karir di dunia bisnis / akuntansi (yaitu analitis / kemampuan memecahkan masalah, kemampuan komunikasi lisan  dan tertulis, kerja tim dan terus belajar).



Sumber :

MH Kavanagh, L Drennan / Akuntansi dan Keuangan 48 (2008) 279-300

Faktor Yang Mempengaruhi Profesionalitas Akuntan Publik

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PROFESIONALITAS AKUNTAN PUBLIK

Etika merupakan suatu ilmu yang membahas perilaku perbuatan baik buruk manusia sejauh yang dapat di pahami oleh pikiran manusia. Prinsip Etika Profesi dalam Kode Etik Ikatan Akuntan Indonesia menyatakan pengakuan profesi akan tanggungjawabnya kepada publik, pemakai jasa akuntan dan rekan. Prinsip ini memandu anggota dalam memenuhi tanggung-jawab profesionalnya dan merupakan landasan dasar perilaku etika dan perilaku profesionalnya. Prinsip ini meminta komitmen untuk berperilaku terhormat, bahkan dengan pengorbanan keutungan pribadi.

Profesi adalah pekerjaan yang membutuhkan pelatihan dan penguasaan terhadap suatu pengetahuan khusus. Suatu profesi dan lisensi yang khusus untuk bidang profesi, kode etik, serta proses sertifikasi dan lisensi yang khusus untuk bidang profesi. Seseorang yang memiliki suatu profesi tertentu, disebut profesional. Walaupun begitu, istilah profesional juga digunakan untuk suatu aktivitas yang menerima bayaran, sebagai lawan kata dari amatir.

Profesional adalah orang yang mempunyai profesi atau pekerjaan purna waktu dari hidup dari pekerjaan itu dengan mengandalkan suatu keahlian yang tinggi. Atau seorang profesional adalah sesorang yang hidup dengan mempraktekkan suatu keahlian tertentu atau dengan terlibat dalam suatu kegiatan tertentu yang menurut keahlian, sementara orang lain melakukan hal sama sebagai sekedar hobi, untuk senang-senang atau untuk mengisi waktu luang.

Etika Profesi Akuntansi merupakan suatu ilmu yang membahas perilaku perbuatan baik dan buruk manusia sejauh yang dapat dipahami oleh pikiran manusia terhadap pekerjaan yang membutuhkan pelatihan dan penguasaan terhadap suatu pengetahuan khusus sebagai Akuntan.

Faktor yang mempengaruhi seorang akuntan publik menjaga profesionalitas kerjanya :

1.    Independensi
Indenpendensi sebagai suatu sikap dimana auditor tidak memihak harus selalu dapat di pertahankan. Sikap ketidakberpihakan yang ditunjukkan auditor ketika melaksanakan tugasnya mencerminkan auditor jujur dan  bebas dari pengaruh apapun, sehingga laporan auditnya dapat dipercaya. Kehilangan independensi seorang auditor akan berimbas terhadap rendahnya kualitas proses audit yang dihasilkannya sehingga laporan ausit sebagai hasil akhir pekerjaannya tidak sesuai dengan kenyataan dan terdapat keraguan untuk digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan ( K Dwiyani dan Ni Luh, 2014 ).

2.    Besaran Fee
Auditor dengan fee audit yang tinggi akan melakukan prosedur audit lebih luas dan mendalam terhadap perusahaan klien sehingga kemungkinan kejanggalan-kejanggalan yang ada pada laporan keuangan klien dapat terdeteksi. Pendeteksian kejanggalan mencerminkan kualitas proses audit tinggi , hal ini dikarenakan kualitas proses audit merupakan pelaksanaan audit dengan penerapan standar akuntansi dan standar audit yang benar oleh auditor ( K Dwiyani dan Ni Luh, 2014 ).

3.    Gaya Kepemimpinan Transformasional
Pemimpin bertanggungjawab atas kegagalan pelaksanaan pekerjaan, sebaliknya kesuksesan dalam memimpin sebuah organisasi merupakan keberhasilan seorang mempengaruhi orang lain untuk mengerakkan atau menjalankan visinya, selain itu adanya koordinasi atau kerjasama yang baik antara pimpinan dan bawahannya. Gaya kepemimpinan transformasional yang baik dapat memotivasi kerja untuk meningkatkan kinerja karyawan, sehingga dengan meningkatnya kinerja karyawan akan berdampak pada kualitas audit yang dihasilkan ( Made dan Dodik, 2016 ).

4.    Objektivitas
Objektivitas menetapkan suatu kewajiban bagi auditor untuk bersikap adil, tidak memihak, jujur secara intelektual, tidak berprasangka serta bebas dari konflik kepentingan atau berada di bawah pengaruh pihak lain. Auditor membuat keputusannya dengan melakukan penilaian yang seimbang atas semua kondisi yang relavan dan tidak terpengaruh oleh kepentingannya sendiri atau kepentingan orang lain. Prinsip objektivitas mensyaratkan agar auditor melaksanakan audit dengan jujur dan tidak mengkompromikan kualitas sesuai dengan yang dinyatakan dalam standar audit ( Made dan Dodik, 2016 ).

5.    Integritas
Semakin tinggi integritas auditor akan semakin baik kualitas audit yang dihasilkan. Integritas mengharuskan seorang auditor untuk bersikap jujur dan transparan, berani, bijaksana dan bertanggung jawab dalam melaksanakan tugas audit. Kelima unsur itu diperlukan untuk membangun kepercayaan dan memberikan dasar bagi pengambilan keputusan yang andal. Integritas dapat menerima kesalahan yang tidak disengaja dan perbedaan pendapat yang jujur, tetapi tidak dapat menerima kecurangan prinsip. Dengan integritas yang tinggi, maka auditor dapat meningkatkan kualitas hasil pemeriksaannya ( Made dan Dodik, 2016 ).

6.    Pengalaman Kerja
Semakin lama masa kerja seorang auditor, akan semakin banyak pula penugasan yang dilaksanakan serta pelatihan yang diikuti, sehingga akan semakin banyak pengetahuan yang mereka miliki dalam bidang audit serta lebih mengetahui celah-celah kecurangan yang mungkin dilakukan oleh kliennya yang kemudian akan meningkatkan kehati-hatian dalam mengambil kesimpulan atau memberikan opini, yang pada akhirnya akan meningkatkan kualitas audit yang dihasilkannya ( Komang dan I Wayan, 2016 ).


7.    Kepatuhan
Semakin tinggi kepatuhan dan kesadaran auditor terhadap kode etik profesinya, maka auditor akan cenderung lebih berhati-hati ketika melaksanakan audit serta tidak dengan mudah percaya terhadap pernyataan klien dengan melaksanakan lebih banyak pemeriksaan ulang, yang pada akhirnya akan meningkatkan keakuratan hasil auditnya ( Komang dan I Wayan, 2016 ).








Referensi :
-       K. Dwiyani dan Ni Luh, 2014. “Pengaruh Independensi Auditor dan Besaran Fee Audit Terhadap Kualitas Proses Audit”, E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana, Vol 6 :419-428.
-       Made dan Dodik, 2016. “Pengaruh Gaya Kepemimpinan Transformasional, Objektivitas, Integritas dan Etika Auditor Terhadap Kualitas Audit”, E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana, Vol 14 :948-976.
Komang dan I Wayan, 2016. “Pengaruh Pengalaman Kerja dan Kepatuhan Terhadap Kode Etik Pada Kualitas Audit Melalui Skeptisisme Profesional Auditor”, E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana, Vol 15 :754-783.