KEBIJAKSANAAN PEMERINTAH JEPANG
Jepang merupakan salah satu negara di kawasan Asia Timur
yang memiliki perkembangan pesat di sektor perekonomian. Dalam sejarahnya,
Jepang dulunya dikenal dengan sistem keshogunan (pemerintahan militer) yang
berimplikasi terhadap keadaan ekonomi dan politik Jepang. Terdapat dua
keshogunan yang terkenal di Jepang, yaitu keshogunan Hideyoshi (1536-1598) dan
keshogunan Tokugawa (1542-1616) (Wang 1997: 26). Pada keshogunan Tokugawa,
Jepang menerapkan kebijakan isolasi yang menyebabkan Jepang menjadi negara tertutup.
Namun, adanya desakan eksternal dari AS pada tahun 1954, Jepang akhirnya
mengubah kebijakan Jepang yang lebih terbuka. Meskipun demikian, Jepang sempat
mengalami krisis ekonomi dan politik hingga terjadi peralihan kekuasaan dari
keshogunan kembali kepada kaisar, yang dikenal dengan Restorasi Meiji.
Restorasi Meiji inilah yang menjadi salah satu momen penting Jepang dalam
menentukan arah perekonomian dan perpolitikannya. Sejak Restorasi Meiji tahun
1868 atau disebut periode modernisasi, Jepang mulai menganut sistem ekonomi pasar
bebas, mengadopsi kapitalisme Inggris dan AS, dan mengadopsi sistem pendidikan
dengan pengiriman tenaga pengajar yang didatangkan dari luar Jepang ataupun
pengiriman para pelajar Jepang ke negara Barat seperti AS. Pihak pemerintah
Jepang juga disibukkan dengan pembangunan infrastruktur berupa pembangunan
jalan raya, rel kereta api dan pabrik indsustri. Berkaitan dengan pertumbuhan
ekonomi Jepang, periode 1960an-1980an disebut sebagai “keajaiban ekonomi
Jepang”, di mana pertumbuhan ekonomi Jepang pada periode tersebut berkisar 4%-
10%. Namun, pada dasawarsa 1980an, Jepang mengalami penurunan volume ekspor
yang disebabkan oleh terjadinya surplus perdagangan di Eropa dan AS dan
menguatnya nilai mata uang yen. Sehingga, pemerintah Jepang melakukan sejumlah
spekulasi ekonomi terkait surplus likuiditas dan pencetakan uang dalam jumlah
yang justru mengakibatkan peningkatan harga saing dan mengarah pada
penggelembungan harga aset. Pada tahun 1990an, ekonomi gelembung tersebut dapat
diatasi melalui kebijakan ketat Bank of Japan tentang sistem baru pajak dan
pembatasan pendanaan aset properti. Hingga tahun 2000, upaya kebijakan
perekonomian pemerintah Jepang hanya memiliki implikasi yang kecil sebagai
pengaruh dari resesi ekonomi global pada saat itu. Namun seiring dengan
perkembangan, perekonomian Jepang semakin mengalami peningkatan yang membuat
jepang masuk ke dalam tiga besar perekonomian dunia. Industri utama yang
dikembangkan oleh Jepang diantaranya sektor perbankan, asuransi, realstat, bisnis
eceran, transportasi, telekomunikasi dan kosntruksi (Anon, n.d). Etik kerja
keras dan penggunaan teknologi canggih menjadi faktor utama dalam mendukung
pertumbuhan ekonomi Jepang yang sangat pesat baik dalam aktivitas ekspor maupun
impor. Berkaitan dengan dengan kerja sama bisnis di Jepang, terdapat
karakteristik khusus yaitu dengan melibatkan konsep-konsep lokal seperti sistem
Nenkō, nemawashi, salaryman dan official lady.. Kondisi perekonomian Jepang
yang baik dan pelarangan penggunaan angkatan Militer di Jepang menjadi alasan
tersendiri Jepang menjalin kerja sama dengan AS. Jepang juga menjadi bagian
dari negara anggota G8, APEC, ASEAN+3, yang menandakan keinginan kuat Jepang
untuk menciptakan hubungan internasional yang erat antara negara-negara di
dunia. Selain itu, Jepang juga menjalin kerja sama pertahanan dengan Australia
(2007) dan India (2008). Dengan perekonomian Jepang yang menguat pula, Jepang
menjadi salah satu negara pemberi bantuan ekonomi terbesar di dunia melalui
Japan’s Official Development Assistance (ODA).
Hingga tahun 2001, jumlah angkatan kerja Jepang mencapai
67 juta orang. Tingkat pengangguran di Jepang sekitar 4%. Pada tahun 2007,
Jepang menempati urutan ke-19 dalam produktivitas tenaga kerja.Menurut indeks
Big Mac, tenaga kerja di Jepang mendapat upah per jam terbesar di dunia. Toyota
Motor, Mitsubishi UFJ Financial, Nintendo, NTT DoCoMo, Nippon Telegraph &
Telephone, Canon, Matsushita Electric Industrial, Honda, Mitsubishi
Corporation, dan Sumitomo Mitsui Financial adalah 10 besar perusahaan Jepang
pada tahun 2008.Sejumlah 326 perusahaan Jepang masuk ke dalam daftar Forbes
Global 2000 atau 16,3% dari 2000 perusahaan publik terbesar di dunia (data
tahun 2006). Bursa Saham Tokyo memiliki total kapitalisasi pasar terbesar nomor
dua di dunia. Indeks dari 225 saham perusahaan besar yang diperdagangkan di
Bursa Saham Tokyo disebut Nikkei 225.
Dalam Indeks Kemudahan Berbisnis, Jepang menempati
peringkat ke-12, dan termasuk salah satu negara maju dengan birokrasi paling
sederhana. Kapitalisme model Jepang memiliki sejumlah ciri khas. Keiretsu
adalah grup usaha yang beranggotakan perusahaan yang saling memiliki kerja sama
bisnis dan kepemilikan saham. Negosiasi upah (shuntō) berikut perbaikan kondisi
kerja antara manajemen dan serikat buruh dilakukan setiap awal musim semi.
Budaya bisnis Jepang mengenal konsep-konsep lokal, seperti Sistem Nenkō,
nemawashi, salaryman, dan office lady. Perusahaan di Jepang mengenal kenaikan
pangkat berdasarkan senioritas dan jaminan pekerjaan seumur hidup.
Jepang adalah negara pengimpor hasil laut terbesar di
dunia (senilai AS$ 14 miliar).[76] Jepang berada di peringkat ke-6 setelah RRC,
Peru, Amerika Serikat, Indonesia, dan Chili, dengan total tangkapan ikan yang
terus menurun sejak 1996. Pertanian adalah sektor industri andalan hingga
beberapa tahun seusai Perang Dunia II. Menurut sensus tahun 1950, sekitar 50%
angkatan kerja berada di bidang pertanian. Sepanjang "masa keajaiban
ekonomi Jepang", angkatan kerja di bidang pertanian terus menyusut hingga
sekitar 4,1% pada tahun 2008. Pada Februari 2007 terdapat 1.813.000 keluarga
petani komersial, namun di antaranya hanya kurang dari 21,2% atau 387.000
keluarga petani pengusaha.
Jepang merupakan negara industri besar. Bahkan saat ini
Jepang menduduki peringkat kedua setelah Amerika Serikat sebagai negara
industri besar di dunia. Produk industri Jepang telah tersebar ke berbagai
pelosok dunia. Produk - produk tersebut meliputi produk permainan, barang
elektronik, mobil/otomotif, obat - obatan/bahan kimia, tekstil, bahan makanan
olahan, semen, kertas dan barang cetakan, kamera, dan alat transportasi.
Bahkan, saat ini hasil industri otomotif Jepang merupakan hasil industri
otomotif terbesar dunia. Hasil pembangunan negara Jepang di bidang industri ini
sangat luar biasa, mengingat Jepang miskin sumber bahan mineral, sehingga
sebagian besar bahan baku industri tersebut diimpor dari negara lain, termasuk
dari Indonesia.
MASALAH-MASALAH POKOK PEREKONOMIAN JEPANG
Kota Tokyo di
Jepang terkenal dengan masyarakatnya yang disiplin dan teratur. Setiap jalan
diatur sedemikian rupa sehignga terlihat rapih, begitu pun gedung-gedung
dibangun dengan teratur.
Meskipun sudah
terbiasa dengan budaya disiplin dan teratur, tetapi tetap saja negara-negara
maju menghadapi berbagai masalah ekonomi.
Negara maju
memiliki pertumbuhan penduduk yang lambat atau bahkan berangka satu (zero
population growth) sehingga negara maju kekurangan tenaga kerja. Meskipun di
negara maju peraturan ketenagakerjaan sudah baik, tetapi tetap saja arus masuk
tenaga kerja dari negara berkembang ke negara maju membawa dampak negative. Hal
ini disebabkan perbedaan budaya antara penduduk asli dan penduduk pendatang.
Dampak negative itu diantaranya, terjadi bentrokan fisik atau konflik sosial
lain antara penduduk asli dan penduduk pendatang.
1. Produk
negara berkembang masuk ke negara maju
Produk negara
berkembang banyak masuk kenegara maju. Globalisasi ekonomi menyebabkan hambatan
perdagangan antarnegara semakin berkurang. Produk negara berkembang seperti
dari Cina dan Taiwan banyak beredar dipasar negara Eropa sehingga konsumen
lebih banyak memiliki pilihan produk. Produk cina dan Taiwan tidak kalah
bersaing dari segi inovasi maupun kualitasnya. Produk-produk cina dan Taiwan
biasanya lebih murah sehingga dapat mengancam produk-produk eropa yang biasanya
lebih mahal harganya.
2. Investasi
negara maju masuk ke negara berkembang
Banyak pengusaha
dari negara maju yang menanamkan investasi di negara berkembang. Mereka
berusaha menghindari pajak yang tinggal di negaranya sendiri dan berusaha untuk
menghemat biaya produksi. Disamping itu, negara berkembang merupakan pasar
potensial bagi produk-produk dari luar negeri. Jika pengusaha dari negara maju
membuka perusahaan di negara berkembang, tentu akan lebih mendekatkan diri
dengan konsumen. Hal ini jelas akan lebih mempermudah sistem pemasarannya.
Akibat langsung dari pengusaha negara maju yang berinvestasi di negara
berkembang adalah menurunnya tingkat investasi di negara maju tersebut.
3. Kerusakan lingkungan meningkat
Negara maju
mengklaim bahwa negara berkembanglah yang banyak membuat kerusakan lingkungan.
Hal tersebut dapat dimaklumi karena memang sebagian besar negera berkembang
belum memiliki peraturan yang jelas mengenai pencemaran lingkungan. Akan
tetapi, hal tersebut tidak sepenuhnya benar karena banyak juga pengusaha dari
negara maju yang mengeruk sumber daya alam sebesar-besarnya untuk
keperluan produksi. Bahkan, ada pengusaha dari negara maju yang mengambil
sumber daya alam dari negara berkembang tanpa memperhatikan kelestarian
lingkungan.
INVESTASI
DAN PENANAMAN MODAL
Para
investor Jepang semakin menunjukkan keberadaannya di Asia Tenggara, seiring
dengan semangat para pebisnis dan pemerintah untuk memperoleh keuntungan dari
semakin dekatnya integrasi dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN di wilayah ini.
Kazuyuki
Nakane, pejabat senior di kementerian luar negeri Jepang, terbang ke Kamboja dan
Laos untuk menandatangani kesepakatan dengan dua negara ini – yang juga menjadi
sasaran utama investasi Cina.
Hasil
dari kunjungan Nakane adalah penandatanganan piagam penerbangan yang akan
membuka penerbangan langsung dari Jepang ke dua negara ini, dan juga ada
perkembangan para beberapa kesepakatan yang lain. Dia juga menghadiri upacara
peresmian sebuah jembatan di Kamboja yang dibangun dengan dana bantuan Jepang.
Banyak
pengamat yang percaya bahwa persaingan akan semakin ketat dalam beberapa tahun
ke depan, karena banyak negara dengan ekonomi besar seperti Cina, Uni Eropa,
dan Jepang akan berusaha memperoleh keuntungan dari Masyarakat Ekonomi ASEAN
atau MEA yang akan mulai berjalan pada akhir 2015.
Jembatan
Neak-Loeung di atas Sungai Mekong dibangun dengan dana lebih dari USD 100 juta
dari Jepang.
Tujuan MEA adalah membuka
aliran bebas perdagangan, tenaga kerja, dan investasi di sepuluh negara anggota
ASEAN. Manfaat yang diperoleh anggota MEA akan mirip dengan EU, tetapi tanpa
integrasi keuangan dan politik yang lebih dalam – dan inilah yang sering
mendapat kritik.
Laos
dan Kamboja adalah dua negara Asia Tenggara yang banyak tertinggal dibandingkan
negara-negara ASEAN lainnya. Laos adalah satu-satunya negara di Asia Tenggara
yang punya perbatasan dengan lima negara lain, dan direncanakan akan menjadi
pusat transportasi.
Kamboja
adalah negara termiskin di Asia Tenggara dalam pendapatan per kapita, tetapi
pemerintah Kamboja sudah berkomitmen melakukan deregulasi dan mempermudah
pebisnis dan investor asing untuk beroperasi di negara ini. Negara ini adalah
salah satu negara dengan pertumbuhan tercepat di dunia dan tidak pernah melalui
tahun dengan pertumbuhan negatif sejak Pol Pot turun dari kekuasaan pada
pertengahan 1990-an.
Tetapi
secara historis kedua negara ini sangat dipengaruhi oleh Cina dan sejauh ini
Beijing masih yang terdepan di ASEAN. Beijing ingin memperkuat perdagangan
bilateral dengan wilayah ini, dari USD 444 milyar pada tahun 2013 menjadi USD 1
trilyun pada 2020.
Cina
sudah mulai menanam investasi pada jalur kereta api cepat di Asia – yang akan
melalui Laos dan mencapai kota Kunming di Cina bagian selatan – dengan Thailand
dan Vietnam; yang akan melalui Malaysia dan terhubung dengan Singapura.

0 komentar:
Posting Komentar